Kita lingkungannya. Percaya diri secara luas dianggap sebagai salah

Kita semua tahu bahwa Pada hakikatnya manusia adalah
mahluk sosial yang senantiasa ingin bebas berinteraksi dengan manusia
lainnya.Ketika seseorang masuk ke dalam sebuah lingkungan maka ia harus
memiliki rasa percaya diri.Seseorang dengan rasa percaya diri yang tinggi akan
dengan sangat mudah bersosialisai dan mendapatkan banyak teman.Seperti misalnya
peserta didik yang akan memasuki sebuah jenjang pendidikan yang lebih tinggi
yaitu dari tingkat sekolah dasar ke tingkat menengah pertama,pasti iya sangat
sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan serta teman-teman yang baru.Tetapi
jika peserta didik tersebut memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dia akan
dengan mudah beradaptasi dan mendapatkan banyak teman.

Percaya diri adalah kemampuan seseorang dalam
mengelola kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirinya untuk mencapai tujuan
hidupnya.Rasa percaya diri tidak muncul begitu saja  melainkan percaya diri ini timbul dalam diri
seseorang melalui berbagai proses seperti memahami diri sendiri,orang lain dan
lingkungannya.Kurangnya rasa percaya diri mampu membuat seseorang rendah diri
dalam proses berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Percaya diri secara luas dianggap sebagai salah satu yang
paling menarik didalam psikologi saat ini.Menurut para ahli sendiri percaya
diri adalah yang pertama Menurut Lauster kepercayaan diri adalah  suatu sikap yakin atas kemampuannya sendiri
sehingga ia tidak mudah merasa cemas,ia mampu merasa bebas dengan segala
tindakan-tindakan yang sesuai keinginannya serta bertanggung jawab atas
perbuatannya,sopan terhadap orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat
mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri.1

Lauster menggambarkan bahwa orang yang mempunyai
kepercayaan diri memiliki ciri-ciri tidak mementingkan diri sendiri
(toleransi), tidak membutuhkan dorongan orang lain, optimis dan gembira. Lalu
Menurut pendapat Angelis percaya diri berawal timbul dari tekad pada diri sendiri,
untuk melakukan segala sesuatu yang kita inginkan dan butuhkan dalam hidup.
Percaya diri terbina dari keyakinan diri sendiri, sehingga kita mampu
menghadapi tantangan hidup apapun dengan berbuat sesuatu.Dan Menurut Rahmat, kepercayaan
diri dapat diartikan sebagai suatu kepercayaan terhadap diri sendiri yang
dimiliki oleh setiap orang dalam kehidupannya serta bagaimana orang tersebut
memandang dirinya secara utuh dengan mengacu pada  konsep diri.

               

Memiliki kepercayaan diri sangatlah penting bagi setiap orang.Karena Kepercayaan
diri adalah salah satu aspek kepribadian yang ada pada  seseorang. Kepercayaan diri merupakan kunci
utama pada diri seseorang dalam kehidupan bermasyarakat, tanpa adanya
kepercayaan diri akan menimbulkan banyak masalah pada diri seseorang. Hal
tersebut dikarenakan dengan kepercayaan diri, seseorang mampu untuk
mengaktualisasikan segala potensinya.2

Self confiedence- kepercayaan diri dianggap sebagai salah
satu motivator dan regulator paling berpengaruh perilaku dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat. Rasa percaya diri bukanlah perspektif motivasional
dengan sendirinya. Ini adalah sebuah keputusan tentang kemampuan untuk
pencapaian beberapa tujuan, dan karenanya harus demikian dipertimbangkan dalam
konseptualisasi motivasi yang lebih luas yang memberikan tujuan konteks. Kanfer
(1990) memberikan contoh satu kerangka berbasis kognitif motivasi untuk diskusi
semacam itu. Dia menyarankan bahwa motivasi terdiri dari dua komponen: pilihan
tujuan dan pengaturan diri. Pengaturan diri, pada gilirannya, terdiri dari tiga
rangkaian aktivitas yang terkait: pemantauan diri, evaluasi diri, dan self- reaksi.
3

Peserta
didik di dalam proses pendidikan adalah individu. Aktivitas, proses dan hasil
perkembangan peserta didik dipengaruhi oleh karakteristik peserta didik sebagai
individu. Sebagai individu, peserta didik mempunyai dua karakteristik utama.
Pertama, setiap individu memiliki keunikan sendiri-sendiri. Kedua, dia selalu
berada dalam proses perkembangan yang bersifat dinamis. Peserta didik bersifat
unik, tiap individu memiliki sejumlah potensi, kecakapan, kekuatan, motivasi,
minat, kebiasaan, persepsi, serta karakteristik fisik dan psikis yang
berbeda-beda.

Peserta
didik juga berkembang dinamis. Setiap individu berada dalam proses
perkembangan. Dalam setiap tahap perkembangan ada kesamaan kecepatan aspek
perkembangan. Pada masa tertentu perkembangan aspek fisik-motorik lebih
menonjol, pada masa lainnya aspek intelektual, sosial, moral dan lain-lain,
yang lebih nampak. Tiap individu memiliki pola, kecepatan dan dinamika
perkembangan sendiri-sendiri. Ada pola-pola umum atau
kecenderungan-kecenderungan perkembangan yang hampir sama dari perkembangan
individu, tetapi secara lebih spesifik rinci, tiap individu memperlihatkan
pola, kecepatan dan dinamika perkembangan sendiri-sendiri.  

Setiap
individu peserta didik memiliki lingkungan dan latar belakang yang
berbeda-beda, sehingga hal itu mempengaruhi kepribadian dan pembentukan rasa
percaya dirinya dan berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan rasa percaya diri tinggi yang ada pada
dirinya, peserta didik akan sangat mudah berinteraksi didalam lingkungan
sekitarnya. Rasa percaya diri adalah sikap percaya dan yakin atas kemampun yang
dimilikinya, yang dapat membantu seseorang untuk memandang dirinya dengan
positif dan realitis sehingga ia mampu bersosialisasi secara baik dengan orang
lain. Rasa percaya diri seseorang juga banyak di pengaruhi oleh tingkat
kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki. Orang yang percaya diri selalu yakin
pada setiap tindakan yang di lakukannya, merasa bebas untuk melakukan hal-hal
yang sesuai  dengan keinginannya dan
bertanggung jawab atas perbuatannya.

 Tentu hal tersebut dapat menjadi pendorong dan
mempermudah  dalam proses belajarnya.
Namun tidak semua individu memilki rasa percaya diri yang cukup. Perasaan
minder, malu, sungkan dll, adalah bisa menjadi kendala seorang individu siswa
dalam proses belajarnya disekolah maupun di lingkungannya, karena dengan rasa
minder tersebut individu akan sering merasa tidak yakin dengan kemampuan dan
ketrampilan yang dimilikinya, sehingga jadi lebih menutup diri, dan kurang
mendapatkan banyak informasi langsung yang dibutuhkan.

Seseorang yang selalu beranggapan bahwa dirinya tidak mempunyai
kemampuan, merasa dirinya tidak berharga, merupakan gambaran  diri orang yang mempunyai rasa percaya diri rendah. Hal ini dapat ditunjukkan dalam
bentuk tingkah laku yang kurang wajar atau menyimpang,seperti rendah diri,
terisolir, serta merasa sulit untuk berada disuatu lingkungan atau sulit
bersosialisasi.

 Rendahnya rasa percaya diri
dapat menyebabkan rasa tidak nyaman secara emosional yang bersifat sementara
tetapi dapat menimbulkan banyak masalah. Rendahnya rasa percaya
diri bisa menyebabkan depresi, bunuh diri, anoreksia
nervosa, delikuensi, dan masalahpenyesuaian diri lainnya. Tingkat percaya diri
yang rendah berhubungan dengan proses belajar seperti
prestasi rendah atau kehidupan keluarga yang sulit, atau dengan
kejadian-kejadian yang membuat tertekan, masalah yang muncul dapat menjadi
lebih meningkat.4

 Timbulnya masalah tersebut
bersumber dari fikiran yang negative yang ada pada diri seseorang sehingga ia
memiliki rasa percaya diri yang rendah. 
Bahkan dengan rasa percaya diri yang rendah peserta didik akan lebih
sering mendapatkan perlakuan pelecehan sosial berupa ejekan atau bully dan hal
lain yang membuat ia makin sensitif untuk tidak berinteraksi dengan lingkungannya.

Pada masa
sekarang banyak program pendidikan yang hanya berpusat pada IQ saja,sedangkan
kita tahu bahwa yang sebenarnya dibutuhkan adalah bagaimana mengembangkan
hati,seperti ketangguhan,inisiatif,optimisme,serta kemampuan beradaptasi yang
kini telah menjadi dasar penilaian baru.Banyak sekali contoh disekitar kita
yang membuktikan bahwa kecerdasan otak saja/IQ belum tentu sukses didunia
pekerjaan maupun lingkungan.Saat ini begitu banyak orang berpendidikan tinggi
serta ber IQ tinggi tetapi tidak berhasil dimasyarakat Karena rendahnya
kecerdasan emosional mereka.

Kecerdasan
emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan
intelegensi,menjaga keselarasan emosi,dan mengungkapkannya melalui keterampilan
kesadaran diri,pengendalian diri,motivasi diri,empati dan keterampilan
sosial.individu yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih
baik,dapat menjadi lebih terampil dalam memusatkan perhatian,lebih baik dalam
berhubungan dengan orang lain,dan lebih cakap dalam memahami orang lain.

            Kecerdasan emosional dapat dikatakan sebagai kemampuan psikologis yang
telah dimiliki oleh tiap individu sejak lahir, namun tingkatan kecerdasan
emosional tiap individu berbeda, ada yang menonjol da nada pula yang tingkat
kecerdasan emosional mereka rendah. Orang yang cerdas secara emosi bukan
hanya memiliki emosi atau perasaan tetapi juga mampu memahami apa makna dari
rasa tersebut. Dapat melihat diri sendiri seperti orang lain melihat,serta
mampu memahami orang lain seolah-olah apa yang dirasakan oleh orang lain dapat
kita rasakan juga.

Mashar  mengemukakan bahwa
kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali, mengolah, dan mengontrol
emosi agar mampu merespons secara positif setiap kondisi yang merangsang
munculnya emosi-emosi. Salovey-Mayer, menyatakan bahwa indicator kecerdasan
emosional terbagi menjadi lima, yaitu: 1) Mengenali emosi diri, 2)Mengelola
emosi,

3)
Memotivasi diri sendiri, 4) Mengenali emosi orang lain, dan 5)Membina hubungan.
Berbagai penelitian dalam bidang psikologi anak telah membuktikan bahwa anak-anak
yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi adalah anak-anak yang bahagia,
percaya diri, popular, dan lebih sukses dilingkungan sekitar. Mereka lebih
mampu menguasai gejolak emosi, menjalin hubungan yang harmonis dengan orang
lain,dalam mengelola stres, dan memiliki kesehatan mental yang baik .

Kecerdasan emosional tidaklah berkembang secara alamiah. Artinya

seseorang
tidak dengan sendirinya memiliki kematangan emosi semata-mata

didasarkan
pada perkembangan usia biologisnya. Akan tetapi kecerdasan emosional sangat
tergantung pada proses pelatihan dan pendidikan yang kontinu.Kecerdasan
emosional merujuk kepada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan
orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi
pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Kecerdasan emosional terdiri dari lima komponen yaitu pengenalan
diri, pengendalian diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial.

Apabila
seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana baru yang asing

untuk
dirinya, maka orang tersebut memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi,
sehingga orang tersebut akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar
serta pergaulannya. Menyesuaikan diri yang dimaksud yaitu dapat beradaptasi dan
menyaring pergaulan yang bagus dengan yang seharusnya tidak diikuti. Pergaulan
remaja sekarang lebih banyak mengalami masalah-masalah emosional yang cukup
berat. Banyak remaja yang tumbuh dalam kesepian, depresi, berada di bawah
tekanan, lebih mudah marah dan sulit diatur yang akhirnya berpengaruh terhadap
seluruh kehidupannya. Hal tersebut banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar
dan teman-teman dalam pergaulannya. Melihat dari hal tersebut, maka sudah
seharusnya remaja memahami dan memiliki kecerdasan emosional untuk menyaring
hal-hal negatif yang muncul dari pergaulan lingkungan sekitar dan teknologi
yang sekarang muncul dengan pesat. Secara tidak langsung, kecerdasan emosinal
diperlukan untuk memecahkan masalah yang timbul. Kepercayaan

diri atau
keyakinan diri diartikan sebagai sikap positif seorang individu yang

memampukan
dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun
terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya.

Rasa percaya diri berasal dari dalam diri anak tersebut, tetapi
juga dapat  dipupuk oleh lingkungan dan hubungan dengan orang lain.
Anak yang

mempunyai
rasa percaya diri tinggi biasanya akan melakukan sesuatu dengan

penuh
keyakinan bahwa dia bisa, selain itu juga dapat mengatasi berbagai

persoalan
dan kesukaran yang dihadapinya, dan memiliki sikap positif dalam

segala hal.
Seseorang yang memiliki sikap positif akan selalu berusaha mengembangkan segala
kelebihannya sehingga ia lebih percaya diri untuk bersaing dengan orang lain
untuk memaksimalkan kelebihan yang dimilikinya. 

Konsep umum kecerdasan emosional menunjukkan hal itu Seseorang
bisa mengenali emosi dirinya sendiri dan orang lain, dan bisa menggunakannya pengakuan
sebagai dasar kognisi dan tindakan. Implikasi dari teori dan model ini adalah bahwa
seseorang dengan kecerdasan emosional tingkat tinggi lebih cenderung juga menunjukkan
kualitas hubungan sosial dan interpersonal yang tinggi, dan lebih cenderung
ditunjukkan kasih sayang, altruisme dan kemampuan untuk mengekspresikan cinta
dan emosi lainnya. Sementara klaim ini.Telah diujicobakan oleh beberapa
periset, sudah ada sedikit riset yang bisa diukur

hubungan
pikiran dan perasaan individu EQ yang tinggi, dan kualitas lainnya seperti memelihara,
empati, pertunangan sosial dan kesadaran moral. Seperti yang akan kita lihat,
yang utama definisi EQ dan kapasitas terkaitnya cenderung berkisar pada gagasan
orang EQ yang tinggi berpikir dan bertindak lebih efektif.

            Kecerdasan emosional dapat
didefinisikan sebagai “subset kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan
untuk memantau perasaan dan emosi seseorang dan orang lain, untuk membedakan di
antara mereka dan menggunakan informasi ini untuk membimbing seseorang pemikiran
dan tindakan (Salovey dan Mayer, 1990). Dengan terdiri dari empat kelas utama
kemampuan – persepsi, integrasi, pemahaman dan pengelolaan emosi -, kecerdasan
emosional dianggap “sekuat dan at kali lebih kuat daripada IQ “dalam
memprediksi kesuksesan (Goleman, 1995).

Seperti
yang diharapkan, kurangnya kecerdasan emosional menyebabkan serangkaian
masalah. Fernández-Berrocal dan Ruiz (2008)

disajikan
empat bidang dasar di mana masalah perilaku seperti di kalangan siswa mungkin
muncul: interpersonal hubungan, kesejahteraan psikologis, kinerja akademik dan
perilaku yang mengganggu. Jadi, emosional

Kecerdasan
dalam pendidikan tidak hanya digunakan sebagai alat untuk proses pendidikan yang
lebih baik, tapi mungkin juga objektif

itu
sendiri juga, karena siswa yang cerdas secara emosional akan memiliki nilai
lebih tinggi sebagai karyawan potensial dan juga orang-orang di dalamnya umum.